Rabu, 07 April 2010

Kesuksesan KB di Indonesia Masih Jadi Acuan

You should be able to find several indispensable facts about news in the following paragraphs. If there's at least one fact you didn't know before, imagine the difference it might make.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengalaman keberhasilan Indonesia dalam menekan pertumbuhan penduduk lewat program keluarga berencana (KB) masih menjadi acuan bagi negara berkembang lain untuk belajar. Akan tetapi, pencapaian tersebut masih perlu ditingkatkan lagi, mengingat saat ini indikator kependudukan yang dulu signifikan sekarang stagnan.

Demikian komentar yang disampaikan oleh Duff Gillespie, Director Project Advance Family Planning (AFP), sebuah inisiatif yang bertujuan merevitalisasi program KB. "Indonesia pernah memiliki program keluarga berencana yang terbaik di dunia. Tapi semua itu masih perlu di-improve karena pencapaiannya masih statis," katanya di Jakarta (6/4).

Senada dengan Gillespie, Jose Rimon II dari Bill & Melinda Gates Foundation, yang termasuk dalam konsorsium AFP mengatakan kesuksesan Indonesia diakui oleh dunia sehingga lembaga-lembaga donor meluluskan dan memberi penghargaan.

The information about news presented here will do one of two things: either it will reinforce what you know about news or it will teach you something new. Both are good outcomes.

"Meski kini menghadapi tantangan desentralisasi, Indonesia masih jadi negara yang bisa dipelajari kesuksesannya. Kami percaya negara lain masih bisa belajar dari sini," katanya.

Menurut Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, sampai saat ini hampir 5.000 pejabat dan pengelola program kependudukan dan KB dari 94 negara telah datang ke Indonesia untuk bertukar pengalaman bagaimana Indonesia mengelola program KB.

Indonesia dianggap berhasil melakukan konsolidasi dan melibatkan tokoh keagamaan, tokoh masyarakat, serta swasta dalam program KB walau struktur sosial ekonomi masyarakat masih beragam dengan kondisi geografis yang terpencar.

Kini, keberhasilan Indonesia dalam program KB mendapat tantangan cukup besar. Sejak sistem sentralisasi bergeser menjadi desentralisasi, banyak kepala daerah yang enggan mendukung program KB karena dianggap sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Pola pikir seperti itu merupakan cermin kurangnya pemahaman sebagian masyarakat terhadap peran KB.

Lebih dari sekadar upaya kuantitatif untuk menurunkan angka kelahiran dan kematian, peran Keluarga Berencana sebenarnya bersifat kualitatif dalam hal perbaikan penanganan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Ini yang dicapai lewat pengaturan saat kehamilan, jarak kelahiran, dan jumlah anak.

That's the latest from the news authorities. Once you're familiar with these ideas, you'll be ready to move to the next level.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar